Ramadan dan Pendidikan Karakter

- Penulis

Selasa, 12 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Irwan Supriyanto, Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter UPI Bandung

i

Irwan Supriyanto, Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter UPI Bandung

Bulan ramadan atau bulan puasa, merupakan bulan dimana umat Islam wajib melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu tanda taat dan patuh terhadap perintah Allah SWT.

Dalam Al Qur’an dijelaskan perintah Allah kepada orang yang beriman kepada-Nya untuk melaksanakan puasa yang sering kita dengar lantunannya kala memasuki bulan ramadan, setiap kultum setelah shalat shubuh, kultum sebelum shalat tarawih, kultum menjelang buka puasa dan disetiap waktu selama bulan ramadhan sebagai pengingat bagi kita semua, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al Baqarah: 183)

Kemudian diperjelas dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan”

Puasa merupakan rukun Islam yang keempat, dengan berpuasa seorang muslim berarti tengah membiasakan diri untuk menjalani berbagai akhlak utama yang berfondasikan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana rukun-rukun Islam yang lainnya, jika puasa ditunaikan sesuai dengan ketentuan yang dikehendaki Allah maka ia akan menghasilkan fungsi pendidikan diri. Orang yang berpuasa itu tidak melakukan sesuatu melainkan hanya meninggalkan syahwatnya (kesenangan nafsunya).

Baca Juga :  Nabi Muhammad SAW Pahlawanku

Dengan puasa, ia meninggalkan hal-hal yang dicintainya, semata hanya karena cintanya kepada Allah. Dalam bahasa Arab dan Al Qur’an puasa disebut shaum, shiyam yang berarti menahan diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu atau mengendalikan sesuatu.

Pada ujung ayat surat Al-Baqarah: 183 disebutkan tujuan ibadah puasa agar orang yang mengerjakannya memperoleh derajat ketaqwaan yaitu yang dapat mewujudkan kesadaran diri bahwa Allah selalu bersama kita, mengawasi dan melihat semua perbuatan kita. Karena itu

puasa yang dikerjakan memberikan pelatihan akan sikap arif, yaitu jujur pada diri sendiri, karena merasakan selalu diawasi oleh Allah SWT. Kondisi tersebut melahirkan integritas seorang hamba terhadap Khaliq-Nya.

Islam sebagai agama universal telah memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju kehidupan yang bahagia, yang pencapaiannya bergantung pada proses pendidikan yang dijalaninya, karena pendidikan merupakan kunci penting untuk membuka jalan kehidupan manusia.

Pendidikan merupakan suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.

Dari pengertian pendidikan tersebut bisa difahami bahwa puasa bisa dijadikan proses pendidikan, pengajaran, penggemblengan, dan latihan untuk merubah sikap dan tingkah laku kita untuk mencapai kedewasaan.

Baca Juga :  Yayan Sopyani: Kasih Sayang Bagian dari Hak Anak

Dewasa secara sederhana bisa fahami bahwa seseorang tersebut sudah matang dalam pemikiran, keyakinan, pemahaman, sikap dan tingkah laku. Orang yang sudah dewasa mempunyai tanggungjawab terhadap diri dan Tuhannya, tanggungjawab diri dan sosial, tanggungjawab terhadap keputusan yang dipilih, mandiri dalam berfikir dan bertindak, mampu menilai baik dan buruk.

Dewasa merupakan organism yang telah matang secara fisik, psikis dan spiritual.

Bulan puasa bisa dijadikan sebuah momentum bagi kita untuk mulai melatih penanaman nilai-nilai Ilahiah yang terbentuk menjadi karakter baik sebagai pribadi muslim yang utuh. Karakter baik mempunyai komponen diantaranya; moral knowing (kesadaran, pengetahuan nilai, penentuan perspektif, pemikiran, pengambilan keputusan, pengetahuan pribadi), moral feeling (hati nurani, harga diri, empati, mencintai hal yang baik, kendali diri, kerendahan hati), dan moral action (kompetensi, keinginan, kebiasaan).

Ramadan merupakan bulan sarana kawah candradimuka bagi kaum muslim untuk menggembleng diri sehingga mencapai ketaqwaan sebagaimana tujuan dari puasa itu sendiri. Ketaqwaan yang termanifestasikan menjadi karakter sebagai pancaran nilai Ilahiah.

 

Irwan Supriyanto
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter UPI Bandung

Berita Terkait

Pemilu dan Kesejahteraan Rakyat: Keterkaitan yang Tidak Boleh Dipisahkan
Keberhasilan Pemilihan Umum dan Peranan Strategis Desa sebagai Mitra Penggerak
Yayan Sopyani: Kasih Sayang Bagian dari Hak Anak
Pesan Kurban, Solidaritas Sosial dan Berbagi Kepemilikan
Liliwetan, Cara Nikmat Memaknai Kebhinnekaan dan Kebersamaan
Harapan pada Jargon Badan Pengawas Pemilu
Pengawasan Pemilu oleh Perempuan
Politisasi Ayat Agama dan Penyebabnya
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 November 2023 - 20:06 WIB

Pemilu dan Kesejahteraan Rakyat: Keterkaitan yang Tidak Boleh Dipisahkan

Sabtu, 28 Oktober 2023 - 20:48 WIB

Keberhasilan Pemilihan Umum dan Peranan Strategis Desa sebagai Mitra Penggerak

Selasa, 25 Juli 2023 - 13:09 WIB

Yayan Sopyani: Kasih Sayang Bagian dari Hak Anak

Rabu, 5 Juli 2023 - 11:08 WIB

Pesan Kurban, Solidaritas Sosial dan Berbagi Kepemilikan

Sabtu, 17 Juni 2023 - 19:51 WIB

Liliwetan, Cara Nikmat Memaknai Kebhinnekaan dan Kebersamaan

Jumat, 26 Mei 2023 - 14:46 WIB

Harapan pada Jargon Badan Pengawas Pemilu

Jumat, 26 Mei 2023 - 14:29 WIB

Pengawasan Pemilu oleh Perempuan

Kamis, 25 Mei 2023 - 12:45 WIB

Politisasi Ayat Agama dan Penyebabnya

Berita Terbaru

Momen perayaan Intimate Hearing Session Penemuan 'Kartini' di

Berita

Terinspirasi Perjuangan Kartini, Tsoht Rilis Single Terbaru

Minggu, 21 Apr 2024 - 16:40 WIB