Politisasi Ayat Agama dan Penyebabnya

- Penulis

Kamis, 25 Mei 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gentrapriangan- Politisasi ayat agama merupakan fenomena yang sering kali terjadi di banyak daerah bahkan belahan dunia. Politisasi ayat adalah suatu keadaan di mana agama  sebagai sebuat alat politik atau menjadi alasan untuk mencapai tujuan politik baik individu maupun kelompok.

Sebagai bagian integral dari dari kehidupan umat manusia, agama memiliki kekuatan besar yang dapat menginspirasi, mengarahkan, bahkan mempengaruhi perilaku manusia dalam kehidupan. Dalam dunia politik, agama sering kali oleh para pemimpin dan kelompok-kelompok politik menjadi alat untuk memperoleh atau menggalang dukungan guna memperkuat legitimasi mereka.

Namun, ketika ayat agama dan nilai-nilainya mulai disalahgunakan, baik untuk kepentingan politik atau kepentingan lainnya maka rusaklah nilai-nilainya. Di antaranya yakni toleransi, kerukunan, dan kebebasan agama yang merupakan hal yang sangat mendasar bagi masyarakat.

Dalam beberapa kasus yang menjadi temuan, politisasi agama juga dapat mengahasilkan dampak positif, sebagai contoh pemberdayaan komunitas agama yang terpinggirkan. Namun, lebih sering daripada itu, politisasi agama lebih sering mengarah terhadap konflik, ketidaksetabilan social, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Baca Juga :  Sejarah Alun-alun Sebagai Warisan Kolonial

Ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang terjadinya politisasi ayat agama, antara lain sebagai berikut:

1. Ambisi Kekuasaan

Politisasi agama sering kali menjadi pemicu terjadinya konflik antara kelompok agama yang berbeda. Mereka yang mempunyai ambisi kekuasaan dalam dunia politik dan berasal dari kelompok agama yang berbeda tentu saja akan menjadikan agama dan nilai-nilainya sebagai alat untuk mencapai kekuasaan dan tujuan politik. Hal ini menyebabkan terjadinya hilangnya toleransi antar umat beragama, bentrokan, kerusahan, saling mendiskriminasi, atau bahkan perang saudara sekali pun.

2. Menurunnya Nilai-nilai Toleransi Antar Umat Beragama

Politisasi agama cenderung memperkuat pemisahan dan ketegangan antara kelompok agama. Hal ini bisa menjadi faktor besar yang memicu nilai-nilai toleransi antar umat Bergama, yaitu penghormatan dan kerukunan yang mengarah pada polarisasi masyarakat.

3. Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Dalam hal ini politisasi agama sering kali digunakan sebagai alasan untuk mengekang apa yang menjadi kebebasan seorang umat untuk beragama dan berkeyakinan. Agama atau kelompok yang menjadi kaum minoritas tentu saja akan sangat mudah menjadi sasaran diskriminasi, penganiayaan, atau bahkan penindasan sekali pun.

Baca Juga :  Nestapa Masyarakat Menengah Ke Bawah, Menghadapi Virus Corona
4. Pengabaian Isu Sosial dan Ekonomi

Dalam hal pengabaian isu social dan ekonomi, politisasi agama bisa menjadi faktor penyebab terjadinya teralihkannya perhatian dari isu-isu social dan ekonomi yang mendesak. Fokus yang terlalu belebihan pada pertentangan agama bisa menjadi pengahambat proses pembangunan social, dan penanggulangan kemiskinan sebagai salah satu masalah dalam faktor ekonomi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa politisasi agam merupakan fenomena yang cukup kompleks, dan berpotensi menimbulkan konsekuensi yang serius terhadap masyarakat. Dalam konteks demokrasi dan kebebasan beragama, penting bagi masyarakat untuk bisa mengakui dan melakukan evaluasi terhadap politisasi agama dengan kritis. Perlindungan nilai-nilai pluralisme, toleransi, dan keadilan sosial merupakan sebuah langkah awal yang cukup penting untuk mencegah politisasi agama. Terutama yang merusak dan mempromosikan kerukunan antar umat beragama.

Narasumber : Sansan Ziaulhaq Wk. Ketua Lakpesdam PCNU Garut

Berita Terkait

Jelang Akhir Masa Jabatan Bupati Garut, SAPMA PP: Terima Kasih
Tanding Futsal antar Orang Muda Lintas Iman sebagai Ajang Persaudaraan
Sajajar Perkuat Toleransi Lewat Pameran Foto dan Nobar Film Dokumenter
IPNU Jabar Siap Awasi Pemilu 2024
H Dudu Rohman Nahkodai PCNU Kota Tasik, FBTI Berharap Dapat Perkuat Moderasi Beragama
Pemilu dan Kesejahteraan Rakyat: Keterkaitan yang Tidak Boleh Dipisahkan
Keberhasilan Pemilihan Umum dan Peranan Strategis Desa sebagai Mitra Penggerak
Yayan Sopyani: Kasih Sayang Bagian dari Hak Anak
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Februari 2024 - 18:49 WIB

Mengenal Reynaldi Agus Prassetiyo Finalis Putra Pendidikan Jabar

Sabtu, 10 Februari 2024 - 20:48 WIB

PMK Kembali Merebak di Garut, Diskanak Perketat Pembelian Ternak

Jumat, 9 Februari 2024 - 19:52 WIB

Mahasiswa Tasikmalaya Tanggapi Deklarasi Pemilu Damai oleh Petinggi Kampus

Kamis, 8 Februari 2024 - 21:04 WIB

Disambut 20 Ribu Santri dan Masyarakat Garut, Ganjar Sampaikan Komitmen Terhadap Guru Ngaji

Kamis, 8 Februari 2024 - 18:11 WIB

Keluarga Besar Persis Deklarasikan Dukung Anies Muhaimin di Garut

Rabu, 7 Februari 2024 - 19:46 WIB

Peringati Hari Jadi Garut, Pemda Kabupaten Garut Rilis Logo Baru

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:07 WIB

Waspada Risiko Bencana, KPU Kota Tasikmalaya Siapkan Rumah Aman

Selasa, 6 Februari 2024 - 21:28 WIB

Presiden Jokowi Tetapkan 14 Februari Sebagai Hari Libur Nasional

Berita Terbaru