Home / Opini

Minggu, 2 Mei 2021 - 20:50 WIB

Lima Metode Sumber Pengetahuan Perempuan

Gentra Priangan - 

Penulis: Elga Yulia Delvira

i

Penulis: Elga Yulia Delvira

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagiannya). Pengetahuan juga merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Kita semua sepakat bahwa pengetahuan sangat berperan dalam kehidupan manusia baik pada laki-laki maupun perempuan. Karena dengan adanya ilmu pengetahuan, akan sangat berdampak bagi perkembangan dan kemajuan umat manusia.

Salah satu bentuk nyata ilmu pengetahuan diperlukan adalah dengan adanya lembaga pendidikan baik formal maupun non formal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mary Belenky, Bly the Clinchy, Nancy Goldberger, Jill Tarule dari Ferris State University yang berjudul Women’s Ways of Knowing perempuan memiliki 5 level cara untuk mengetahui, diantaranya;

1. Diam (Silent)
Pada level yang pertama adalah silent/diam. Di tahap ini, perempuan memiliki ketergantungan total pada orang lain dalam memperoleh pengetahuan. Perempuan hanya memilih dan punya pilihan untuk tetap diam. Dia menyandarkan otoritas secara penuh kepada orang lain. Dalam kondisi ini orang lain memberi pengetahuan dan ia bergerak seperti robot yang kapan dan dengan cara apa bergerak sepenuhnya ditentukan oleh pihak lain. Perempuan dalam posisi ini disebut silent knower.

2. Pengetahuan Terterima (Received Knowledge)
Pada tahap kedua, perempuan memperoleh pengetahuan dan mereproduksinya kembali tanpa proses apapun atau dengan kata lain sebagai wujud kebenaran. Mereka menerima pengetahuan secara mentah yang bersumber dari media sosial, televisi, lembaga pendidikan formal maupun non formal dan sebagainya secara utuh tanpa melakukan proses filterisasi. Contohnya perempuan dalam memahami teks agama bahwasanya suami boleh memukul istri, maka perempuan dengan pengetahuan ini akan mewajari tindakan tersebut.

Baca Juga  Pemkab Garut Siapkan Destinasi Wisata Berbasis Digital Tourism

3.Pengetahuan Subjektif (Subjective Knowledge)
Pada tahap ketiga, perempuan mulai melakukan perbandingan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengalaman personal Pada saat menerima informasi tentang dibolehkanya suami memukul istri dalam ajaran Islam, maka ia akan mengkritisi dengan pemahaman yang ia miliki, bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan kebaikan. Dengan demikian ia mulai mempertanyakan sesuatu yang menurutnya tidak logis dan dia baru menyimpan pertanyaan tersebut untuk dirinya sendiri.

4.Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
Pada tahap keempat, perempuan mulai menyandarkan pengetahuan pada prosedur yang objektif dan mulai mengkomunikasikan pengetahuannya. Pada tahap ini perempuan mulai menggali pengetahuan dengan mencari sumber-sumber terkait terutama dalam informasi yang berbeda namun saling berkaitan. Lalu membandingkannya dengan pengetahuan yang lain dengan orientasi kemaslahatan.

5.Pengetahuan Kokoh (Constructed Knowledge)
Pada tahap terakhir yaitu perempuan memandang posisi pengetahuannya dalam posisi yang kokoh karena ia telah melakukan verifikasi pengetahuan yang ia dapatkan. Selain itu, ia memandang semua pengetahuan secara kontekstual, menghargai strategi subjektif yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman yang terjadi secara nyata, dan menyadari strategi objektif dengan melihat pengetahuan sebagai pengetahuan. Baginya, validitas sebuah pengetahuan tidak lagi tergantung pada kedudukan maupun profesi seseorang, melainkan pada otoritas dirinya melalui proses-proses yang telah dilalui sehingga memiliki keyakinan yang kuat.

Baca Juga  Sambut Mahasiswa Baru Dengan Organisasi yang Memiliki Nilai Kebangsaan dan Keagamaan

Berdasarkan kelima level di atas, bagi saya level cara perempuan mengetahui sangatlah dinamis. Pada saat ini, perempuan-perempuan bisa menduduki level pertama bahkan sampai level kelima. Kemampuan perempuan dalam memperoleh ilmu pengetahuan memiliki keragaman yang berbeda karena dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti ikhtiyar perempuan dalam menemukan keragaman pengetahuan dan dalam meningkatkan keberanian dapat mempengaruhi. Sedangkan faktor eksternal seperti hak mendapatkan rasa aman untuk mempunyai pendapat yang berbeda.

Dengan adanya penelitian ini, kita dapat melihat posisi diri kita sendiri dan perempuan lain, sudah berada dimana level cara mengetahui kita saat ini ? Sehingga diharapkan pasca mengetahui dimana level kita tersebut, kita mampu melakukan startegi optimalisasi untuk meningkatkan level pengetahuan kita.Cara perempuan mengetahui ini adalah sebuah konstruk sosial yang berarti adanya ruang bagi para perempuan untuk memproses diri sampai pada posisi tertinggi yakni pada Constructed Knowledge
.
Elga Yulia Delvira
Dalam Ngaji KGI

Share :

Baca Juga

Opini

Fakta Seputar Air

Opini

Sejarah Tasikmalaya Pasca Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Opini

Nabi Muhammad SAW Pahlawanku

Opini

Curahan Hati Seorang Anak yang Ibunya Menjadi Garda Terdepan Melawan Covid-19

Budaya

Warisan Leluhur dan Tradisi, Ini Makna Iket Pria Sunda

Opini

OPINI: Mahasiswa Vs UKT di Tengah Pandemi Covid-19

Opini

RUU PKS, Miskonsepsi yang Mengaburkan Urgensi

Opini

Perlu Gak Sih Melatih Anak Membaca Sejak Dini ?