Home / Gaya Hidup / Opini

Kamis, 14 Oktober 2021 - 21:52 WIB

Hari Penglihatan Sedunia, Berikut 3 Keluhan Utama Pengguna Kacamata

Gentra Priangan - 

i

Opini – Memiliki kedua bola mata yang bisa melihat dengan normal merupakan sebuah anugerah yang tentunya indah. Mata merupakan indra penglihatan yang penting dimiliki oleh manusia untuk mengetahui tentang sesuatu yang ada di Bumi ini lewat penglihatan dengan jelas.

Namun, berdasarkan data yang dikutip dari lama World Health Organization (WHO) secara global setidaknya ada 1 miliar orang yang mengalami gangguan penglihatan. Gangguan itu seperti sulit melihat dengan jarak dekat atau jarak jauh, sehingga masih banyak kasus yang belum ditangani.

Menurut WHO, gangguan penglihatan dan kebutaan punya efek besar terhadap aspek kehidupan. Misalnya interaksi sehari-hari dengan masyarakat di lingkup sekolah, ruang kerja hingga kemampuan dalam mengakses layanan publik. Karena itulah, tepatnya hari ini Kamis, 14 Oktober 2021 diperingati sebagai hari penglihatan sedunia.

Dengan tema ‘Cintai Matamu’, Hari Penglihatan Sedunia 2021 mengajak masyarakat untuk peduli terhadap gangguan penglihatan. Tetapi di sini saya sebagai orang yang memiliki gangguan penglihatan lebih tepatnya rabun jarak jauh akan mengulas kehidupan saya sebagai pengguna kacamata yang sudah saya jalani hampir 5 tahun lamannya.

Di hari penglihatan sedunia yang bertema Cintai Matamu ini sangat relevan dengan kehidupan zaman sekarang, penyakit mata kini bukan saja penyakit yang hanya diderita oleh orang yang berusia 50 tahun saja Tidak bisa dipungkiri, saat ini penderita gangguan rabun jauh atau dekat bisa terjadi pada anak muda seperti halnya saya yang baru menginjak usia 20 tahun.

Menjalani kehidupan sehari-hari sebagai orang yang memiliki rabun jauh dengan mata minus cukup besar yaitu mata sebelah kanan -600 dan sebelah kiri -550 dengan cylender mata kanan -100 dan mata kiri -0,50 ini membuat saya wajib kemana pun kaki melangkah kacamata tak boleh tertinggal agar penglihatan tidak menjadi kabur.

Bagi saya kacamata bukan sekadar aksesoris atau hanya untuk gaya-gayaan saja, melainkan teman sekaligus alat bantu yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja, dunia tanpa kacamata bagi saya hanya sebuah keindahan yang bersifat semu. Sebab, semua jika di lihat dari jarak yang cukup jauh akan buram hal ini juga membuat saya tidak jarang sering dibilang sombong. Padahal apa yang perlu disombongkan dengan mata minus yang bukan prestasi tapi tentunya tetap saya syukuri.

Baca Juga  Escape to the Caribbean for Stress-Free Holidays

Memperingari hari penglihatan sedunia ini saya akan menceritakan suka, duka atau pun stigma kepada saya sebagai pengguna kacamata, semoga saja ini bisa jadi pengetahuan atau bahan tertawaan buat teman-teman saya yang selama ini penasaran, bagaimana orang dengan mata minus menjalani kehidupan dan apa yang selama ini dirasakan.

Awal Mula Menjadi Orang Berkacamata

Saya mulai merasa mengalami gangguan penglihatan dalam hal ini adalah rabun jauh, yaitu ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, saya mulai merasa kesulitan melihat dengan jelas benda atau tulisan yang cukup jauh, tidak jarang kalau ada tugas mencatat di papan tulis saya malah lihat catatan di buku teman sebangku.

Karena saat SMP itu sangat jarang ada siswa yang menggunakan kacamata dan keluarga saya pun khusus ibu dan bapa tidak menggunakan kacamata, sehingga membuat saya memutuskan untuk menyembunyikan kerabunan selama bertahun-tahun.

Saya mulai menggunakan kacamata sejak kelas 1 SMK. Semua ini terjadi karena awalnya saya mengalami sakit mata dan mengharuskan saya untuk diperiksa dan saya masih ingat saat itu saya sudah minus tiga lantaran tidak pernah diperiksa dan tidak menggunakan kacamata.
Lantas, kemudian kejadian ini membuat saya berpikir dan mau menggunakan kacamata dengan selalu meninggat peringatan dokter bahwa kalau dibiarkan nantinya akan semakin parah. Hal Ini pula membuat orang tua saya khawatir dan memutuskan untuk segera medatangi optik yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit tempat mata saya diperiksa dan langsung memutuskan untuk jalan kaki saja.

Lalu, bagaimana kah kehidupan saya setelah menggunakan kacamata? Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, pasti akan banyak muncul pertanyaan dan rasa penasaran di benak teman-teman.

Untuk sebagian besar orang yang baru pertamakali menggunakan kacamata atau yang sudah menggunakan kacamata pasti mengalami pertanyaan atau perlakuan teman-teman yang akan saya jelaskan di bawah ini.

1. Sering dihujani berbagai pertanyaan semacam ini

Bersiaplah untuk menjawab berbagai pertanyaan dari temamu. Ini yang pernah saya alami dari sekian banyak teman pasti ada yang bertanya, “Kenapa sekarang pake kacamata?”. “Emang min berapa?”, “Boleh pinjem kacamatanya?”, “Kalau dilepas kacamatanya kelihatan jadi beda ya?’”. “Kalau ga pake kacamata, kelihatan ga ini berapa?” ujar teman saya sambil mengetes pertanyaan dengan hitungan menggunakan jarik yang sangat klasik sekali rasanya.

Baca Juga  Curahan Hati Seorang Anak yang Ibunya Menjadi Garda Terdepan Melawan Covid-19

Bagi sebagian besar orang yang menggunakan kacamata saya pastikan pasti pernah mengakami kejadian yang serupa, dimana akan ada teman yang mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat mereka penasaran.

2. Tidak bisa minum atau makan yang menimbulkan embun di kacamata
Punya teman atau lihat orang berkacamata makan mie atau minum kopi panas dengan kacamata diletakkan di kepala atau dilepas sama sekali? Jelas, itu karena merupakan refleks penyelamatan menghindari embun yang akan menutupi kacamata dan jarak pandang akan menganggu kenikmatan sekali.

Bagimana nggak dilepas, kalau sekali aja kita niup-niup makanan atau minuman panas, atau uapnya mengenai wajah dan kacamata pun bakal langsung berembun dalam hitungan detik.

Hal ini sering saya rasakan juga bagaimana tidak enaknya menjadi orang berkacamata mau makan saja terkadang ribet sama embun,hahaha.

3. Malah sering dianggap jadi ‘sombong’

Sebagai orang berkacamata saya juga terkadang ingin sesekali mencoba untuk melepas kacamata sejenak. Namun, sialnya, ketika saya tidak sedang menggunakan kacamata atau sedang menggunakan kendaraan malah dianggap sombong oleh beberapa teman yang tidak sengaja saya sapa balik, karena alasanya saya tidak melihat atau kurang melihat dengan jelas, bukan malah saya jadi sombong.

Dalam hati kadang saya ngomong dan bertanya-tanya “Apa yang perlu disombongkan dengan mata minus, karena ini jelas penyakit bukan prestasi yang berubah itu pandangan saya menjadi kurang jelas, tapi kenapa malah cara pandang teman-teman juga yang berubah dan malah bilang saya ini sombong”

Tapi, di sisi lain menjadi orang berkacamata ada sedikit untungya, seperti halnya orang berkacama itu rajin baca buku ya, padahal saya sendiri malah lebih rajin buka hp bukan buka buku, sering juga dianggap pintar, kalau ini saya kadang Aaminkan saja semoga aura dari kacamata bisa membuat saya rajin baca buku benaran dan pintarnya bukan bohongan.

Di hari penglihatan mata sedunia dengan tema “Cintai Matamu” memang perlu mencintai matadengan cara dijaga, kalau tidak mau mengalami hal yang sama seperti saya, melihat sesuatu itu harus dengan kacamata agar terlihat jelas.

Share :

Baca Juga

Gaya Hidup

Belum Tau Ya! Ini 5 Selebgram Asal Tasikmalaya

Opini

Soroti Nasib Warga Ahmadiyah, STS Tulis Surat Terbuka Untuk Presiden

Gaya Hidup

Tips Mencegah KDRT Menurut Pasangan Muda Inspiratif Kemenpora

Gaya Hidup

Gerakan Ceu Lalah, Solusi Atasi Sampah Ala Himaska Unpak Bogor

Opini

Koordinator CTC Bogor: Masih Banyak PR untuk Meminimalisir Banjir

Opini

Viral! Warganet Minta Ikon Wilayah Tasikmalaya Selatan

Opini

Nestapa Masyarakat Menengah Ke Bawah, Menghadapi Virus Corona

Gaya Hidup

Perkuat Kapasitas Millenial Dengan Pelatihan Kopi