Forum Kajian Katolik Muda dan Sosial Gelar Webinar Konflik Rusia-Ukraina

- Penulis

Jumat, 22 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik Rusia-Ukraina menjadi perbincangan hangat kekinian di berbagai kalangan masyarakat, termasuk kelompok anak muda.

Pada aras realita, konflik yang terjadi di luar negeri menyisakan pertanyaan reflektif: Mau dibawa kemana dunia ini pasca konflik berakhir? Pertanyaan ini menjadi diskusi yang menarik karena pada akhirnya akan membuka cakrawala orang muda perihal bagaimana posisi Indonesia dan orang muda itu sendiri.

Untuk membahas lebih dalam Forum Kajian Katolik Muda dan Sosial menggelar Webinar Konflik Rusia-Ukraina bertajuk “Kemana Sejarah Menikung: Perang Ukraina Dan Masa Depan Dunia”, (20/04/2022).

Kegiatan ini digelar dalam rangka tindak lanjut proses konsolidasi dan motivasi Orang Muda Katolik untuk melakukan diseminasi dan menginisiasi dialektika diskusi percaturan hubungan internasional di kalangan Orang Muda
Katolik.

Memasuki diskusi, *Pegiat Defense Heritage, Dr. Jeanne Francoise* mengungkapkan Ukraina pernah menjadi salah satu pembangunan sejarah. Sementara, asal-usul tentara Ukraina sendiri berasal dari petani yang belajar militer dan juga pendatang yang menetap.

“Rusia masih tidak rela Ukraina menjadi negara merdeka karena masih menganggap Ukraina adalah bagian dari Rusia, ditambah Kiev pernah menjadi ibukota negara Rusia” papar Jean.

Baca Juga :  Silaturahmi dengan FBTI, Fatayat NU Soroti Intoleransi di Tasikmalaya

Mari melihat pola, lanjut Jean, baik penyebab perang Rusia-Ukraina terjadi. “Ketika suatu negara sudah mengerti tentang apa itu defense heritage, akan punya hasrat dan kepercayaan masing-masing. NATO seharusnya memberikan statemen apakah Ukraina akan masuk sebagai anggota atau tidak” tutup Jean.

Sementara, Pegiat OMK, Cyprianus Lilik Krismantoro berpandangan bahwa Rusia sudah menyiapkan perang secara tertata dan bertahun-tahun dari segi ekonomi, pertahanan, dan persenjataan termasuk dalam pemilihan momentum perang disaat dunia masih krisis pandemi.

“Dalam peperangan ini, minyak, gas, gandum, segi transportasi, logam, microchips menjadi faktor sangat berpengaruh dan memberi dampak dalam tekanan ekonomi dunia” ujar Lilik.

Perang dingin tidak membentuk apapun, tambah Lilik, dimana situasi global kini semakin realis. “Dalam kondisi ini, kemandirian ekonomi nasional dan solidaritas bangsa akan menguatkan pertahanan suatu negara” imbuhnya.

Disisi lain, Alumni Universitas Pertahanan RI, Jutan Manik mengemukakan ada dua jenis diplomasi yang bisa dilakukan dalam perang yaitu Human Rights Diplomacy dan Security Diplomacy. 

“Dalam kasus ini, Rusia menggunakan Security Diplomacy dalam perang terkait keamanan pertahanan negara Rusia” terang Jutan.

Baca Juga :  PMII Tasikmalaya Demo 100 Hari Kerja Pj Wali Kota

Lebih lanjut, Jutan memaparkan bahwa ada tiga urgensi kepentingan yang muncul diantaranya pembangunan nasional, keamanan dan kestabilan negara, dan menjaga keutuhan wilayah.

Bagi Jutan, posisi Indonesia dalam bersikap terhadap perang Rusia-Ukraina harus bertujuan untuk melindungi, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa, melaksanakan ketertiban dan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Indonesia dalam diplomasinya di wilayah Ukraina sudah memulangkan WNI di wilayah konflik, memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk buat camp pengungsian.

“Saya mengajak peran anak muda konflik Rusia-Ukraina bisa membuat hastag dalam sosial media untuk membangun narasi perdamaian serta ikut berperan aktif dalam berbagai dinamika politik di luar negeri” tutupnya.

Webinar ditutup dengan memberikan closing statemen masing-masing narasumber serta berswafoto. Dalam kegiatan juga dihadiri oleh puluhan orang muda Katolik dari berbagai daerah di Indonesia.

Berita Terkait

Jelang Akhir Masa Jabatan Bupati Garut, SAPMA PP: Terima Kasih
Tanding Futsal antar Orang Muda Lintas Iman sebagai Ajang Persaudaraan
Sajajar Perkuat Toleransi Lewat Pameran Foto dan Nobar Film Dokumenter
IPNU Jabar Siap Awasi Pemilu 2024
H Dudu Rohman Nahkodai PCNU Kota Tasik, FBTI Berharap Dapat Perkuat Moderasi Beragama
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kemuslimahan KAMMI Tasik Gelar Workshop
PBNU dan PP Muhammadiyah Sepakat, Politik Identitas dapat Memecah Belah Masyarakat
Politisasi Ayat Agama dan Penyebabnya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Februari 2024 - 17:39 WIB

Sejumlah Massa Serbu Rumah Pemenangan Caleg di Tasikmalaya

Jumat, 23 Februari 2024 - 15:05 WIB

2 Oknum Polisi Terlibat Kasus Pencurian dengan Kekerasan di Garut

Kamis, 22 Februari 2024 - 18:49 WIB

Mengenal Reynaldi Agus Prassetiyo Finalis Putra Pendidikan Jabar

Sabtu, 10 Februari 2024 - 20:48 WIB

PMK Kembali Merebak di Garut, Diskanak Perketat Pembelian Ternak

Jumat, 9 Februari 2024 - 19:52 WIB

Mahasiswa Tasikmalaya Tanggapi Deklarasi Pemilu Damai oleh Petinggi Kampus

Kamis, 8 Februari 2024 - 18:11 WIB

Keluarga Besar Persis Deklarasikan Dukung Anies Muhaimin di Garut

Kamis, 8 Februari 2024 - 15:17 WIB

Anies Serukan Warga Garut Jangan Takut Perubahan

Rabu, 7 Februari 2024 - 19:46 WIB

Peringati Hari Jadi Garut, Pemda Kabupaten Garut Rilis Logo Baru

Berita Terbaru

Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Penyelamat Demokrasi Tasikmalaya (GRPDT menyerbu salah satu rumah pemenangan Calon Legislattif partai PSI di Kota Tasikmalaya umat (23/2/2024).

Berita

Sejumlah Massa Serbu Rumah Pemenangan Caleg di Tasikmalaya

Sabtu, 24 Feb 2024 - 17:39 WIB