Home / Opini

Kamis, 3 Oktober 2019 - 13:59 WIB

Cerpen Saksi Mata sebagai Perlawanan Seno terhadap Pemerintah: Sebuah Hubungan antara Sastra dan Politik

Gentra Priangan - 

i

Karya sastra adalah satu di antara media untuk menyampaikan reaksi pengarang atas apa yang terjadi di lingkungannya dan dapat menjadi sebuah simbol perlawananan.

Melalui karya sastra, pengarang dapat menyuarakan pendapat atau aspirasinya yang mungkin saja dibungkam atau tak didengar oleh pemerintah.

Karya sastra bisa menjadi sebuah kritik sosial di kalangan masyarakat, juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan opini publik yang dibentuk atas peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi di Indonesia yang akhirnya dijadikan bahan untuk menulis sastra Indonesia, misalnya peristiwa G30SPKI yang oleh Ahmad Tohari dijadikan latar dalam trilogi karyanya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986) atau Umar Kayam dalam karyanya yang berjudul Bawuk (1975) dan Para Priyayi (1992).

Seno dalam bukunya yang berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (1997:93) mengatakan bahwa saat media jurnalistik gagal menyampaikan kebenaran karena terbentur dengan penyensoran, Ia ingin menyampaikan kebenaran melalui karya sastra.

Sebagai pengarang sekaligus wartawan, Seno terkenal dengan karya-karyanya yang mengangkat peristiwa-peristiwa politik, seperti peristiwa Dili pada tahun 1991, pembunuhan ala ninja 1997 dan juga peristiwa Mei 1998. Ia menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diberitakan oleh media melalui karya-karyanya.

Cerpen Saksi Mata merupakan cerpen yang ditulis oleh Seno yang mengangkat peristiwa Dili 1991. Dalam karyanya ini, Ia memposisikan dirinya sebagai wartawan yang juga menjadi saksi mata dalam setiap peristiwa yang terjadi.

Melalui cerpennya, Seno menggambarkan bagaimana seorang wartawan dapat menjadi seorang saksi mata atas peristiwa yang terjadi di lapangan namun tidak dapat dengan bebas membeberkan kejadian sebenarnya.

Perlawanan dalam cerpen ini dapat dilihat dari isi cerpen yang menceritakan seorang saksi mata yang tidak memiliki mata karena dicongkel oleh lima orang yang berseragam ninja. Serta penggunaan kata darah yang diulang-ulang dan diceritakan membanjiri kota menunjukkan bagaimana insiden di Dili tersebut memakan banyak korban.

Baca Juga  Viral! Warganet Minta Ikon Wilayah Tasikmalaya Selatan

Seno memasukkan unsur pelawanan dalam cerpennya melalui penggambaran tokoh utama yang merupakan saksi mata dari sebuah kejadian dapat mengingat detail insiden-insiden yang terjadi dan darah dalam cerpen ini keluar dari matanya yang sudah bolong sampai keluar membanjiri kota tanpa seorang pun yang dapat melihatnya. Hal ini menandakan bahwa pada saat itu kebenaran memang dibungkam, sampai-sampai masyarakat tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Dalam cerpen ini juga, Seno menggunakan beberapa penganalogian melalui tokoh dan objek-objek tertentu seperti darah untuk menyuarakan perlawanan kepada pemerintah sebagai orang yang berkuasa.

Analogi pertama yaitu tokoh Hakim yang diibaratkan sebagai penguasa pada zaman itu. Tokoh Hakim sebagai bagian dari orang-orang berkuasa digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai wibawa dan mencoba menjadi penengah atas peristiwa yang terjadi. Kemudian, tokoh hakim juga digambarkan sedikit tersadarkan oleh pengakuan tokoh saksi mata saat di pengadilan. Ia merasakan betapa orang yang sudah tidak memiliki mata sekalipun dapat berkorban untuk menegakkan keadilan, sedangkan dirinya yang merupakan bagian dari orang yang berkuasa tidak dapat berkorban yang lebih besar.

Kemudian penganalogian kedua adalah tokoh Saksi Mata yang merupakan seorang saksi yang dikisahkan tinggal dalam lingkungan yang kumuh dan merupakan sosok yang lemah sehingga dapat degan mudah mendapat ancaman dari pihak yang berkuasa.

Seno menggambarkan bahwa sebenarnya di kalangan masyarakat terdapat orang-orang yang sebenarnya memiliki keinginan untuk melawan pemerintah dan menegakkan keadilan.

Tokoh Aku yang digambarkan sebagai orang lemah dan bisa diancam samasekali tidak memiliki rasa takut untuk keadilan dan kebenaran. Hal ini semacam sindiran terhadap orang-orang yang selama ini memilih untuk bungkam dan seolah tidak ingin tahu atas apa yang terjadi.

Baca Juga  Menyebarkan Kebodohan dan Hilangnya Nalar Kritis

Selanjutnya, penganalogian ketiga yaitu melalui tokoh wartawan. Dalam hal ini, Seno dengan gamblang menggambarkan sosok wartawan yang sebenarnya memiliki semangat untuk mencari berita namun tidak dapat dengan bebas menulis berita-berita besar. Hal ini menceminkan bagaimana kebebasan wartawan dibatasi oleh orang-orang yang berkuasa.

Penganalogian yang terakhir yaitu ninja dan darah yang merupakan pengibaratan dari penguasa dan akibat dari tindakan-tindakannya. Ninja dalam cerpen ini digambarkan sebagai orang yang mengancam tokoh Saksi Mata agar tidak memberikan kesaksian di pengadilan.

Hal ini mencerminkan bahwa sebenarnya penguasa tidak ingin insiden yang sedang terjadi dibeberkan dengan jelas kepada masyarakat, kemudian darah yang diibaratkan sebagai akibat dari perbuatan penguasa adalah darah dari orang-orang yang berusaha menentang pemerintah.

Darah itu dalam cerpen ini diceritakan tidak dapat dilihat dengan pasti, karena pemerintah yang berkuasa dapat menutupinya.

Dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa cerpen saksi mata karya Seno Gumira Ajidarma ini merupakan sebuah cerpen yang ditulis sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah atas peristiwa yang menimpa Seno sebagai wartawan karena menulis berita mengenai insiden di Dili, Timor Timur.

Pemecatan kepada Seno dan kawan-kawannya ini membuat Seno marah dan akhirnya menuliskan sastra sebagai bentuk perlawanannya. Dalam karyanya ini, Seno menggunakan penganalogian melalui para tokoh dan objek darah untuk menggambarkan bagaimana pemerintah sebagai orang yang berkuasa dapat melakukan apapun menutupi perbutannya yang sewenang-wenang terhadap masyarakat.

Share :

Baca Juga

Opini

Fakta Seputar Air

Opini

Koordinator CTC Bogor: Masih Banyak PR untuk Meminimalisir Banjir

Opini

Pasal Kontroversi Penodaan Agama Lebih Mesra dengan Kepentingan Politik dan Nafsu Pribadi

Opini

Harmonisasi Anak Dalam Keluarga

Opini

Dasa Sila Bandung, HAM, dan Toleransi di Indonesia

Opini

Sambut Mahasiswa Baru Dengan Organisasi yang Memiliki Nilai Kebangsaan dan Keagamaan

Opini

Nestapa Masyarakat Menengah Ke Bawah, Menghadapi Virus Corona

Opini

Nabi Muhammad SAW Pahlawanku