BudayaGaya HidupInspirasi

Cara Milenial Lestarikan Seni Adu Domba Garut

0

Garut – Bagi masyarakat Garut, Jawa Barat, seni ketangkasan adu domba adalah tradisi, sekaligus budaya yang telah mendarah daging dan turun menurun di masyarakat.

Sejarah tradisi seni ketangkasan Domba Garut ini berawal dari masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar tahun 1815-1829, ia sering berkunjung ke sejawat perguruannya bernama Haji Saleh yang mempunyai banyak domba.

Lalu, bagaimana tanggapan para Millenial terhadap kesenian lokal yang ada di Garut ini.

Pria asal Mekar Sari, Garut, Kemal Anugrah (19) mengatakan, ia sangat bangga bahwa kotanya memiliki budaya adu domba Garut yang melegenda.

“Ketangkasan adu domba Garut ini adalah sebuah kesenian yang memang benar benar asli dari Garut, bahkan sejak dulu sudah menjadi Icon tersendiri. Maka dari itu kita harus bangga dan mampu mkebudayaan ini agar tetap ada,” katanya saat dihubungi gentrapriangan.com di Arena adu domba, Desa Panji Wangi, Kec. Tarogong Kaler, Garut, Minggu (25/11/2019).

Ia melanjutkan, dulunya sering ikut orang tua menyaksikan kontes adu domba, tapi setelah lama kelamaan malah menjadi hobi.

Begitupun dengan Rika Nurmalasari (15), baginya seni adu domba bisa menjadi hiburan tersendiri yang sangat menarik.

“Adu Domba ini adalah sebuah seni yang bisa di jadikan sebagai hiburan dan ajang silaturahmi sesama Peternak dari berbagai daerah,” ujarnya.

Ia biasanya tidak hanya menyaksikan di pinggir arena. Tapi, sering kali membawa domba masuk ke arena lapangan untuk segera memperlihatkan kemampuannya,

Dalam setiap kegiatan kontes Adu Domba, mereka menuturkan selalu ikut serta dalam kontes dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan Dombanya.

Semoga Kesenial Lokal Ini akan terus di jaga serta dilestarikan keberadaanya .

Tingkatkan Perekonomian Petani Garut, Pemkab Gelar Festival Kopi

Previous article

Perahu Dihantam Ombak, Satu Nelayan Hilang

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Budaya