Home / Berita / Tasikmalaya

Jumat, 19 Februari 2021 - 22:07 WIB

Antisipasi Konflik Agama, FKUB Tasikmalaya Bentuk Forum Mediasi

Gentra Priangan - 

FKUB Tasikmalaya menggelar pertemuan alumni lokalatih mediasi keagamaan bertempat di Kantor FKUB Tasikmalaya, Jumat, (19/2/2021) - Foto: Rizal/GentraPriangan

i

FKUB Tasikmalaya menggelar pertemuan alumni lokalatih mediasi keagamaan bertempat di Kantor FKUB Tasikmalaya, Jumat, (19/2/2021) - Foto: Rizal/GentraPriangan

Tasikmalaya – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tasikmalaya membentuk forum mediasi sebagai salah satu solusi mengantisipasi konflik yang mengatasnamakan agama.

Sebelumnya, FKUB bekerjasama dengan PUSAD Paramadina dan LK Kompa telah mengadakan lokalatih mediasi konflik keagamaan di Tasikmalaya, dan telah menghasilkan 30 orang mediator.

Ketua FKUB Kabupaten Tasikmalaya, KH Edeng ZA mengatakan, kedepannya para mediator yang telah dilatih ini akan menjadi para duta perdamaian, mereka akan berjuang untuk meciptakan kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Tasikmalaya.

“Jika misalnya terjadi konflik, kita sudah punya mediator, agar konflik tersebut tidak meluas dan berujung pada tindak kekerasan, penyelesaian konflik melalui mediasi dan disepakati oleh semua pihak tentu ini akan menciptakan perdamaian dan kondusifitas di tengah-tengah masyarakat,” kata KH. Edeng Za di Kantor FKUB Kab. Tasikmalaya, Bojongkoneng, Kec. Singaparna, Kab. Tasikmalaya, Jumat, (19/2/2021).

Baca Juga  Jabar Segerakan Penerbitan Pergub Pesantren

Ia mengingatkan, konflik agama hanya akan menghambat pembangunan daerah saja.

“Dengan adanya mediator ini bisa menjadi solusi, mari kita ciptakan kerukunan jangan kita wariskan konflik ke generasi selanjutnya, agar mereka bisa meniru dan tercipta suasana yang damai,” ujarnya.

Baca Juga  Kepatuhan Protokol Kesehatan Rendah, Ini Tanggapan Gugus Tugas Kab. Tasikmalaya

Ia menilai, di Kabupaten Tasikmalaya tidak ada konflik agama yang besar, namun tidak dipungkiri konflik kecil masih ada, dan jika dibiarkan ini bisa menjadi bahaya.

“Sebenarnya konflik kecil yang ada itu disebabkan karena jarang ketemu dan komunikasi saja, padahal jika hubungan emosional sudah dibangun sebenarnya tidak ada apa-apa,” ungkapnya.

“Para mediator ini juga berasal dari berbagai utusan ormas, agama termasuk kelompok minoritas seperti JAI dan IJABI agar tercipta kerukunan dan menjadi kesepakatan bersama,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Berita

Mulai Hari Ini, Tempat Pertemuan di Garut Akan Dibatasi

Berita

PSBB Kota Bogor Diperpanjang, Rapid dan Swab Test Bakal Lebih Intens

Berita

Ajengan Masuk Sekolah Diharapkan Bentuk Generasi Muda

Berita

Sambut Tahun Baru Hijriah, Warga Sukadana Pawai Obor

Berita

Pemuda Katolik Kabupaten Bogor Ajak Seluruh Elemen Tolong Korban Banjir

Berita

Helmi Budiman Terpilih Menjadi Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Garut

Berita

Polres Garut Musnahkan Ribuan Botol Miras dan Oplosan

Berita

Malam Ini, Matikan Listrik Saat Diam di Rumah Untuk Selamatkan Bumi